Pages

And so i play my guitar, I always play my guitar. Karamiau saigetsu wo tadoru tabiji de. Mabuta ni kanjiru yuuitsu no honoo. Natsu no nagori wo utsusu mina no ne. Hanatsu senritsu yo tooku tooku kanawanakutomo ~Loreley~

2010/01/18

Di Bawah Dekapan Hujan

As I fly, never do I want to touch the ground. In the sky all of the stains washed out into air. I flight, continous flight.

Cinta... kamu dimana ?

Dingin.. semilir angin tepat menusuk wajah putihnya. Wanita dengan senyum seadanya. Dia rentangkan lengannya, menyerap setiap hembus yang menerpa.

“dingin...” gumamnya.

Cinta.. disana dingin, cepat masuk kemari...! seru sebuah suara lembut.

Lalu mulai gemercik air menyentuh wajahnya. Dibibirnya tersungging senyum lebar. “akhirnya kau datang juga...”

Sudahkah dia datang...?

“ya.. dia datang, begitu merdu..! kau lihatlah kemari..!”

..........? untuk apa..? nanti semua sayapku basah.

“belum.. ini hanya gerimis, tak akan membuatmu basah kuyup..!” senyum itu masih menghiasinya, “aku akan melindungi sepasang sayapmu itu, percayalah..”

Wanita itu mulai menuntunnya. Melihat betapa indahnya air yang menetes dari langit itu. Air yang menetes dari awan hitam itu.

Mengapakah langit itu begitu gelap..?

Wanita itu tampak berpikir sambil terus memandangi kegelapan diatas sana, “mungkin.. karena air ini tak suka cahaya..”

Bagaimana bisa..? cahaya itulah yang melahirkanku, mengapa dia tak suka..?

“kadang kegelapan itu dibutuhkan untuk membuat keindahan.. apa kau tak lihat betapa indahnya pemandangan ini..!?” kemudian datang sekilat cahaya menyeramkan dari langit yang jauh disana, mengejutkan, “lihat.. itukah cahaya yang melahirkanmu..?!! dia selalu membuatku takut, suaranya membuatku ngeri..” dia menutup telinga, lalu meneteskan setitik air dari matanya.

......? kau ini, kau sudah memilih kegelapan, cahaya itu adalah bagian dari kegelapan ini, kau tahu.. tak akan ada gelap kalau tak ada terang.

Wanita itu memandangnya, “apa kau pernah takut berada dalam cahaya..?”

Tidak.. dan akupun tak pernah takut berada dalam gelap.. karena aku tahu masih ada seberkas cahaya yang menyinariku.. cinta..

“mengapa kau terus memanggilku cinta..? padahal aku hanya sebongkah kegelapan yang suatu saat bisa menghitamkan sayap putihmu itu..!”

Aku tak peduli, aku sudah buta.. dan kau tahu, buta itu gelap, dan kau bilang kadang kegelapan itu dibutuhkan untuk membuat keindahan, dan aku percaya itu. Aku buta, tapi aku bisa melihat keindahan, kau... aku pun sudah memilih kegelapan ini, dan aku tak mungkin lagi untuk berbalik dan kembali pada cahayaku yang dulu.

Air itu masih membasahi sayapnya. Mereka masih saling pandang. Walau ada kekosongan didalamnya. Tangannya menyentuh lembut rambut wanita itu. Ada kesakitan di tiap sentuhannya. Menyentuh kegelapan..? Membuatnya tak bisa kembali..? Mengantarkan luka yang selalu membeku karena kegelapan ini begitu dingin..?

Cinta itu butuh luka.. aku rela meninggalkan cahaya itu untuk berjalan beriringan dengan kegelapanmu.

“tapi sayapmu jadi basah..”

Andaikan aku tak punya lagi sayap, aku rela mengubur dalam-dalam keinginanku untuk terbang lagi.. karena jika aku terbang, aku akan meninggalkanmu sendirian disini, dengan semua kegelapan ini..

Gerimis itu masih bergulir. Membasahi setiap inci sayap yang tergantung di punggung makhluk berparas tampan itu. Mendung pun masih memayungi, seakan memberi kegelapan abadi pada dua insan di bawahnya.

“aku sangat menyukai kegelapan ini...”

Ya.. sukailah semaumu.. jika perlu akan kutahan matahari agar tak ada cahaya yang bisa menembus ruangmu.. sekalipun dia itu ibuku..

“ibu..???” wanita itu memiringkan kepalanya.

Ya, ibuku.. apa kau tak punya ibu..?

Dia tampak berpikir keras lagi, “mungkin aku punya.. mereka menyebutnya iblis..” katanya dengan polos.

Iblis..??

“ya.. dan mereka bilang, dia juga punya sepasang sayap sepertimu, tapi aku tak tahu dengan jelas wujud ibuku itu.. kalau ibuku punya sayap, kenapa aku tak punya..? dan apakah ibumu itu punya sayap juga..?”

Ya, ibuku punya sayap.. dan mungkin ayahmu tak punya..

“ayah..? mungkin.. karena mereka tak pernah menyebut ayahku iblis..”

Mungkin ayahmu memang bukan iblis..

“lalu, ayahku itu apa..? apakah ayah dan ibumu juga berbeda ?”

Sejak aku mulai mengingat, yang aku tahu ayahku adalah malaikat dan ibuku pun malaikat, mereka sama-sama tinggal dalam cahaya.. sama-sama terbang dengan sayap putihnya, diatas langit yang tak pernah gelap dan berair seperti ini.

“malaikat..??”

........ Mungkin, malaikat dan iblis itu sama, buktinya mereka punya sepasang sayap dan bisa terbang, hanya saja kesukaan mereka berbeda, malaikat itu suka cahaya sedangkan iblis itu suka kegelapan, makanya kau jadi suka gelap, karena ibumu itu adalah iblis.

Wanita itu tersenyum lebar. Mereka berdua tersenyum lebar. Sampai hujan mulai deras, dan mereka harus berteduh dibawah rimbun pepohonan. Wanita cantik itu masuk kedalam sayap putih sang anak malaikat yang masih agak basah, namun lama-kelamaan muncul kehangatan dari dekapannya.

“berjanjilah kau akan selalu disisiku, malaikat..”

Aku berjanji.

“walaupun kau harus terpisah dari cahaya dan kegelapan menyelimutimu..”

Walaupun aku harus terpisah dari cahaya dan kegelapan menyelimutiku.

“dan kau harus berjanji, suatu saat kau akan membawaku terbang.. aku juga ingin terbang seperti ibuku dulu..”

Ya, aku akan mengajakmu terbang sekali-sekali. Tak pernahkah sekalipun kau bertemu ibumu..?

Wanita itu menggeleng, “tidak.. aku belum pernah bertemu dengannya, malah aku menganggap kegelapan ini adalah ibuku, mungkin karena ibuku dulu memang suka berada dalam kegelapan..”

Dulu ibuku pernah bilang, bahwa cahaya adalah sumber segala kehidupan, tapi aku sama sekali tak tahu kalau dalam kegelapan ini aku bisa menemukan cinta, salah satu sumber kehidupan seseorang.

“kegelapan ini kadang menyakitkan.. tapi entah kenapa, aku bisa merasakan keindahan dari sakit yang kurasakan itu..”

Keindahan itu karena cinta, dimanapun engkau berada, gelap atau terang, asalkan disana ada cinta, pasti akan kau temukan keindahan.

“walaupun cinta itu datang dari seorang malaikat pada seorang iblis..?”

Ya, meskipun begitu... akan tetap indah.

(My First Public Story.. terinspirasi dari lagu Acid Android - Into Air)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar