Pages

And so i play my guitar, I always play my guitar. Karamiau saigetsu wo tadoru tabiji de. Mabuta ni kanjiru yuuitsu no honoo. Natsu no nagori wo utsusu mina no ne. Hanatsu senritsu yo tooku tooku kanawanakutomo ~Loreley~

2010/04/23

[Sexy02] Lady In Blue_1

Love is a process to make a lot of way to you…



Lady mengambil gitar akustiknya dan segera bergegas menuju jalan di depan apartemennya dari lantai 4. Jam 9 kurang 10, sudah sangat telat baginya untuk menghadiri acara yang akan dimulai kurang lebih setengah jam lagi.
Di pinggir trotoar, Lady dihampiri oleh seorang wanita muda. Dia tinggi, rambut panjang bergradiasi tiga warna, hitam, pirang dan hijau. Lady yang sudah tak sabar ingin berangkat menuju acara yang sudah dia jadwalkan berbulan-bulan sebelumnya -dan ini akan menjadi suatu momen dimana sisi baiknya akan terlihat oleh orang lain-malah dengan cepat menghampiri wanita itu.
“mobil lo dimana..??” tanya Lady.
“disana...” jawabnya, dan dia agak sedikit panik dengan wajah Lady yang tampak sudah tak sabar.
Lady segera berjalan menenteng gitarnya ke arah dimana teman wanitanya itu menunjuk mobilnya. Sebuah mobil Honda CR-V yang elegan dengan modifikasi disana-sini.
Lady berbalik ke arah temannya, “Midori, lo anterin gue pake kecepatan full..!” perintah Lady, dan Midori hanya bisa mengangguk.
Midori menancap gas sekencang-kencangnya, tapi ketika dia tahu jam berapa acara sebenarnya akan dimulai, dia langsung menginjak rem dan berhenti seketika. Midori tampak begitu marah pada Lady, tapi disana Lady malah mencoba untuk meredam Midori, agar dia bisa sampai tepat waktu.
Mobil mereka sampai juga pada tempat yang dituju, sebuah panti asuhan dengan gaya art-deco, 10 menit sebelum acara dimulai. Di parkiran sudah banyak mobil berjejer, dan Lady disana disambut seorang wanita berumur dan seorang anak perempuan. Lady diajaknya langsung menuju backstage sementara Midori pulang lagi dan janji akan menjemput Lady.
Di backstage, Lady sudah ditunggu oleh 10 orang anak dari panti itu, mereka berbaris untuk nantinya berjalan ke atas panggung. Sebelumnya, Lady dan anak-anak tersebut sudah latihan tentang penampilan bernyanyi mereka pada acara ini dari dua minggu yang lalu. Lady seperti guru kesenian yang belum resmi disana, dia disuruh untuk melatih anak-anak bernyanyi disitu untuk acara-acara sepeti ini yang diselenggarakan oleh pemilik panti.
Beberapa menit kemudian, Lady dan anak-anak itu dipanggil untuk menaiki panggung. Kesepuluh anak tersebut berjalan duluan sementara Lady mengikutinya dari belakang lalu duduk diatas kursi yang disediakan untuknya.
Mereka mulai bernyanyi dengan polos dan suara yang jernih, nada-nada yang merdu dan lirik yang indah. Anak-anak itu sudah menarik hati penonton disana yang kebanyakan adalah relasi dari pemilik panti atau calon orang tua yang akan mengadopsi anak.
Tiga lagu sudah mereka nyanyikan, dan akhirnya tepuk tangan yang riuh rendah mereka dapatkan, beberapa tangkai bunga diberikan pada anak-anak yang telah bernyanyi tadi dari para penonton, mereka pun mendapatkan ciuman dari pengurus panti.
Sementara anak-anak tersebut masih diberi penghargaan oleh orang-orang disitu, Lady turun dari panggung dengan senyum tersungging di bibirnya. Dia begitu bahagia bahwa apa yang telah dia buat bisa membahagiakan orang lain juga. Tiba-tiba, anak-anak yang diiringi Lady bernyanyi memeluknya dari belakang. Mereka tertawa riang dan mengucapkan terima kasih pada Lady.
Seseorang menyentuh pundak Lady, “Aoi.. ada yang ingin bertemu denganmu..!” katanya, dia wanita yang tadi menyambut Lady di parkiran. Setiap orang yang tidak dekat dengannya, tahu nama Lady adalah Aoi, karena Lady hanya nama panggilan untuk sahabat-sahabatnya saja.
Lady mengangguk dan mengikutinya di belakang. Dia dibawa ke kumpulan penonton atau lebih tepatnya relasi-relasi pemilik panti yang kebanyakan laki-laki berumur 40 tahunan ke atas. Hal itu yang membuat Lady canggung dan tak mau bertemu dengan mereka.
Wanita yang mengantar Lady menyapa seseorang, masih lelaki yang sudah berumur, berperawakan tinggi dan agak tambun, wajahnya sudah terlihat tua namun rambutnya masih kelihatan hitam alami.
“selamat siang…” sapa lelaki tersebut.
“siang…” balas Lady.
Lelaki itu memperkenalkan dirinya pada Lady, namanya Masashi, dia pemilik panti ini. Masashi mengungkapkan kekagumannya dan rasa terima kasihnya pada Lady karena mau mengajari anak-anak panti ini kesenian. Dia pun merasa kalau Lady adalah wanita yang lembut yang suka dengan anak-anak.
Lady yang disanjung seperti itu malah punya perasaan yang aneh dan pikiran yang kemana-mana, semua karena masa lalunya. Dia pun hanya bisa tersenyum dan membalas ucapan terima kasihnya.
“Aoi, sebenarnya bukan hanya saya yang ingin bertemu denganmu, tapi keponakan saya.. dia yang menyuruh saya untuk dipertemukan denganmu..” kata Masashi, dia melambai pada seseorang.
Dan datanglah seorang lelaki tinggi dan agak kurus, tampak masih muda dengan rambut panjang sepunggung berwarna kuning kecoklatan. Rambutnya diikat setengah dan beberapa utas rambut depannya diurai ke depan menutupi wajah putihnya. Dia memakai kaos V-Neck fit body warna hitam dibalut jas coklat dan celana jeans biru lurus dengan rantai di saku kanannya.
Lady rasa pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya, tapi dia tidak ingat dimana. Pandangannya terhadap lelaki tersebut lumayan memberikan kesan pertama yang baik, tapi juga agak aneh, berasa ada artis nyasar.
“ee.. Lady.. ini Yuki, mungkin kamu sudah kenal dia..!” Masashi memperkenalkan.
Yuki.. tuh kan, berasa pernah denger dan pernah lihat nih orang.. batin Lady. Tapi dengan polos Lady menggeleng. Dan dia lihat Yuki tersenyum simpul.
“oh.. mungkin Yuki terlalu banyak di belakang drum, jadinya gak kelihatan..” canda Masashi dan dia pun tertawa.
Kata-kata itu malah mengingatkan Lady pada siapa orang didepannya ini sebenarnya. Seorang drummer terkenal yang band-nya sudah punya banyak album, Ciel.
“oh.. maaf, mungkin karena terlalu banyak pikiran, jadinya aku lupa, tapi aku tahu, kamu drummernya Ciel..” kata Lady akhirnya sambil tersenyum.
Masashi pergi meninggalkan Lady dan Yuki. Mereka berbincang-bincang berdua tentang Lady yang menjadi ‘guru kesenian’ di panti dan tentang band Yuki. Mereka berbincang sambil berjalan-jalan di sekitar taman panti.
Ketika itu di taman baanyak anak-anak yang berlari berkejar-kejaran dan salah satu anak laki-laki bertubuh gemuk menabrak Lady yang sedang berjalan hingga Lady terjatuh, tapi tertahan Yuki.
Sesaat, Lady merasa badannya panas ketika Yuki menahannya, Lady berkeringat, perasaannya campur aduk antara berdebar dan ketakutan. Akhirnya dia melepas tangan Yuki dengan kasar dan tanpa pamit dia pergi dari Yuki, sementara scarf birunya jatuh. Yuki memungutnya dan berlari mengejar Lady. Namun Lady terlanjur pergi dan tak mau lagi berpaling ke belakang.



“jadi gimana kesan pertama elo sama dia..?” teriak Midori.
Suara orang yang bicara harus super keras, karena disini adalah sebuah pub-rock yang musiknya tidak jauh dari metal, hard-rock atau heavy. Sebuah panggung di ujung pub, tengah diisi oleh penampilan sebuah band indie hard-rock saat ini.
Midori dan Lady duduk di bar sambil dua-duanya menghisap rokok. Di depan lady tersodor segelas cocktail yang sama dengan warna rambutnya yang ikal, biru. Wajah Lady tampak menerawang jauh ke dalam gelas, sementara midori geleng-geleng karena pertanyaannya tidak langsung dijwab.
“dia aslinya ganteng gak..?”
Tidak dijawab.
“dia bicarain personil lain..?”
Tidak dijawab.
Kesal. “elo pikir elo mulai jatuh cinta, hah..??!!!”
Lady menoleh masih dengan kepala ditopang, “maksudnya..? heh..” Lady mendesah, “gue pikir gue bisa..?? bener juga kata lo..” dan Lady pergi meninggalkan Midori ke backstage.
Di backstage, Lady mengambil gitarnya yang berkilauan karena aksen glitter di setiap bagian badannya. Lady duduk di samping seorang lelaki putih berkacamata dan rambutnya ditata ke belakang dengan gel, dia berpakaian rapi (sweeter full neck dan jeans) dan berkutat di depan laptop, namanya Kai.
“eh.. lo gak sopan ya, gue tanya gak jawab, sekalinya jawab lo pergi gitu aja..” Midori mengumpat Lady.
“kalian kenapa..?” tanya Kai polos.
Sementara Midori terus menekan Lady untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, dua orang lelaki datang menghampiri mereka, mereka adalah Ren dan Jack, dua dari lima personil yang akan tampil sesaat lagi, tiga lainnya adalah Lady, Midori dan Kai. Mereka sudah membuat band sejak 5 bulan yang lalu, pertamanya, Midori (drummer) yang mengajak Lady yang sudah jadi temannya bertahun-tahun menjadi gitaris. Ternyata ada dua orang juga, yaitu Ren (vokal) sedang mencari personil band, dia menemukan Kai (remixer) yang kenal baik dengan Midori. Mereka pun bersama-sama membentuk band tanpa nama dan terakhir, datanglah Jack mengambil posisi bassist.
Saatnya band mereka tampil. Musik beraliran heavy rock bertabur electro bergema di seluruh ruangan, dengan touch permainan yang rapi, mereka bisa menyedot beratus penonton untuk mendengarkan lagu yang mereka bawakan dengan begitu excited.
Setelah itu mereka turun panggung dengan keringat di sekujur tubuh. Lady dan Midori tak tahan dengan rambut mereka yang digerai.
Tok..tok..tok..
Seseorang masuk melalui pintu backstage, seorang bartender dengan piercing-piercing pada wajahnya, “sorry.. Lady, kamu ada yang nyari..!”
Lady mengernyitkan dahinya, “who..???”
Bartender itu mengangkat bahunya, “pake topi, rambutnya panjang…!”
Lady mendesah karena masih capek, “10 menit..!” katanya pada bartender tersebut, dan dia pun pergi.
Midori memandangi Ren dan Jack yang tampak tak bergairah hari ini, “lo kenapa, Ren..?” tanyanya.
Ren menatap Midori, lalu dia menghisap lagi rokoknya, “ada yang mau gue omongin sama kalian.. tapi gak sekarang deh. Jack.. cabut..!!” jawab Ren, lalu pergi tanpa pamit.
Midori, Lady dan Kai saling pandang, tak tahu apa yang terjadi dengan dua personil mereka.
“lo temuin tamunya sana..!” kata Kai tiba-tiba sambil membuka sweeter-nya.
Lady berdiri dan duduk di depan kaca, membetulkan tank-top birunya. Dia mengikat rambutnya dan melintangkan selendang di pingggangnya. Lady pergi lewat pintu belakang bar.
Di bar dia menyentuh pundak bartender yang tadi memanggilnya, “mana tamunya..?!” tanya Lady.
“tuh..” tunjuk bartender itu dengan dagu ke arah ujung bar. Lady melihat pria kurus bertopi.
Lady pun menghampirinya, “night..!” sapa Lady. Pria itu berbalik dan langsung saja Lady mengenalinya, “Yuki..!”
“Aoi..! apa kabar..??” tanya Yuki. Namun Lady masih terlalu kaget.
“ngapain lo kesini..??” tanya Lady akhirnya.
“oh.. sorry, gue tanya tempat lo tinggal, terus pas gue kesana, katanya lo lagi kerja, ternyata disini..!” kata Yuki.
Lady melihat sekeliling dengan cemas, takutnya ada yang mengenali Yuki, namun Yuki segera berbicara, “santai aja.. Lady.. dikenalin pun gak akan apa-apa..!”
Lady memelototi Yuki yang lebar-lebar tersenyum manis di depannya, “lo tahu nama gue Lady…!”
“gue mau ketemu Aoi.. dan banyak yang gak kenal, gue tunjuk lo diatas panggung, mereka bilang nama lo itu Lady.. Lady In Blue… katanya…”
Yuki menatap mata Lady lekat-lekat dengan berjuta binaran dibalik kontak lens hazel-nya. Kekaguman itu makin mengalir dalam darahnya, berdesir tak menentu, deras sampai membanjiri tiap ruang jiwa.
“Lady…!!!” terdengar suara Midori berteriak padanya, dia pun menghampiri Lady. Midori menatap Yuki di depan Lady, “sorry.. ada yang dateng bawain gitar lo…!”
Lady hanya mengangguk, “mmm… Midori, ini Yuki…!” Lady memperkenalkan Yuki pada Midori dengan terbata.
“oh.. Yuki, The Drummer..” kata Midori setelah berjabatan dengan Yuki dengan gaya khas Midori yang menggoda seksi.
“hai… lo yang nge-drum tadi kan..? that was cool, I love it…” puji Yuki.
“masih keren elo yang main… gue memang jarang ngikutin musik, tapi gue sempet lihat solo lo yang best dan gue suka banget…! Masalahnya gue ini terlalu eksis and narsis, jadi Cuma suka sama diri gue sendiri…” ujar Midori dan diperhatikan oleh Yuki yang hanya bisa senyum-senyum, mereka mulai tahu satu sama lain karena selanjutnya mereka berdualah yang chatting tanpa meninggalkan Lady tentunya.
Ketika itu seorang bartender lainnya mengajak Lady bicara, refleks Lady berbalik ke belakang membelakangi Yuki, dan disana mata Yuki tertuju pada sebuah tato hitam yang memanjang di bawah tengkuk Lady, dan ketika Lady menggaruk bahunya, Yuki pun melihat tato sayap di punggung tangan kanan Lady.
“Lady…” kata Yuki, “gue mau balikin scarf punya lo yang jatuh tempo hari..!” menyerahkan scarf biru milik Lady.
“oh.. thank’s..” balas Lady.
Sampai detik ini pun, Lady tak tahu harus bersikap apa pada Yuki. Karena kejadian waktu itu, dia tak mau berpaling walau Yuki meneriakinya, dia jadi tidak enak pada Yuki. Lady tak menyangka akan bertemu lagi dengan Yuki secepat ini.
Pikiran Yuki yang ‘artis’, berenang-renang dalam otak Lady, hal itu juga yang membuat perasaan Lady tak tentu. Mungkin juga karena ada rasa yang lain yang terhalang oleh prinsip-prinsip yang tak jelas.



“you have decided it…!!” kata Midori keras.
“I know.. tapi gue lagi gak sadar, lo ngerti gak..?” ujar Lady, membanting asbak di atas meja.
Midori mengambil rokok di asbak yang ada di depannya, “kalo gak sadar, lo gak mungkin ngomong…!” menghisap rokok.
Mereka berdua terdiam agak lama.
“kalau bukan karena ada feeling, lo gak akan pusing kayak gini…” kata Midori akhirnya.
Kali ini mereka saling bertatapan. Ketika itu Lady berada di dapur dan Midori di ruang tv di apartemen kecil milik Lady. Lady berjalan ke arah Midori yang begitu santai nonton DVD sambil merokok dengan sekaleng minuman di depannya.
“lo ganti baju sana… dia datang sejam lagi..!” suruh Midori tegas, karena Lady sekarang hanya memakai kemben dan hot-pants. Tapi Lady malah ikutan duduk di samping Midori. Midori geleng-geleng kepala, “why.. Lady..???”
“he’s a man.. darling..!” kata Lady sambil melotot dan tekanan pada kata ‘Man’.
“terus kenapa kalau dia cowok.. kalau kayak gini lo udah bener-bener jadi lesbian, non..!” ceplos Midori.
“you’re damn right…!! Tapi, ‘itu’ belum lama berlalu…” Lady jadi menerawang, mengingat masa lalunya dan prinsip-prinsip unlogic-nya yang mulai merajai seluruh otaknya.
Ting..tong..
Bel apartemen Lady berbunyi, dan pasti itu adalah orang yang mereka tunggu sedari tadi. Sementara Lady masih memakai kemben, dia dipelototi Midori, dan dengan segera Lady pergi ke kamar untuk mengganti baju.
Midori beranjak untuk membukakan pintu, Yuki ada disana, dengan rambut panjang digerai dan diselipkan ke belakang telinganya, memperlihatkan 7 piercing di telinga kirinya dan 3 di telinga kanannya. Yuki memakai kaos lengan panjang warna abu-abu dan celana jeans pipa yang agak longgar namun masih terlihat badan kurusnya.
“come in…” pinta Midori.
Yuki pun masuk ke apartemen Lady, ketika itu dia merasa tak asing dengan suasana di dalam sana, hampir mirip dengan apartemennya. Rak CD yang penuh, beberapa gitar yang menggantung, cymbal, stick drum dalam lemari kaca. Tapi, bau rokok yang memenuhi ruangan itu yang membuat Yuki mengernyitkan dahi.
Yuki dipersilahkan duduk oleh Midori, sementara Midori membersihkan meja dari kaleng kosong dan asbak yang penuh.
“lo tinggal disini juga..??” tanya Yuki pada Midori yang datang dari dapur sambil membawa sekaleng minuman.
“enggak.. rumah gue deket dari sini kok, gue Cuma nemenin Lady, dia sendiri, kalau gue masih tinggal bareng keluarga. Keluarganya Lady di luar kota..” ujar Midori.
“udah lama kenal Lady..?”
Midori tersenyum, “10 tahun luar dalem dan up to date…”
Yuki angguk-angguk, “hmm… maybe you know what I mean, with this all of crazy thing..!” Yuki menatap mata Midori dan Midori pun tersenyum ikutan angguk-angguk.
“jelas… lo mau pe-de-ka-te kan..!” goda Midori, “..sejak kapan lo mulai perhatiin dia..?” tanya Midori menjurus.
“mungkin sejak dia main gitar di panti.. gue lihat dia lembut dan perhatian sama anak-anak.. dan senyumnya begitu tulus berpadu dengan pancaran matanya..” ujar Yuki.
“ciee… dalem banget kayaknya… tapi, Lady itu susah ditangkepnya, lebih gampang nangkap elang daripada Lady..” ujar Midori, membuat Yuki terheran, “.. Lady itu lebih mirip bayangan sendiri daripada elang..”
“oh.. gitu, tapi gue udah terlanjur lihat ketulusannya..”
Sementara itu, Lady sudah selesai ganti baju, menguping segalanya di balik pintu kamar. Yang campur aduk itu mulai lagi mengocok pendiriannya. Dengan debar yang masih panjang dia berusaha mengaturnya. Lady keluar kamar dan menyapa Yuki dengan senyum dipaksakan dan tangan yang tak bisa diam.
“eh..e.. kita mau kemana..??” terbata Lady bertanya.
Yuki berdiri menatap Lady yang memakai rok gipsy abu-abu panjang dipadu kaos turtle neck tanpa lengan warna hitam, tampak anggun dengan rambut blue-black panjang yang diikat setengah.
“hmm.. gak apa-apa kan hari ini gue ajak lo jalan..?” Yuki pun hampir salah tingkah di depan Lady yang benar-benar menarik mata… dan hatinya.
“ya… lo udah disini, masa mau gue usir..!”
Mereka berdua tersenyum dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Akhirnya mereka pun pergi diantar Midori yang juga mau pulang ke rumahnya. Yuki membukakan pintu Land Rover-nya untuk Lady dan mereka pun melaju menuju sebuah pusat pertokoan yang nyaman untuk berjalan-jalan.
“keluarga lo dimana..?” tanya Yuki masih di dalam mobil.
“gue… gue tinggal jauh dari mereka, nyokap gue udah meninggal 6 tahun lalu dan gue punya 2 kakak, yang satu tinggal sama ayah dan satunya lagi sudah menikah.. lo sendiri..?”
“gue juga jauh dari orang tua dan saudara-saudara..! eh.. udah lama maen gitar..?”
“iya.. gue diajarin sama bokap dari gue umur 13 tahun, soalnya kata bokap Cuma gue yang interest sama musik..!”
Begitulah sampai mereka tiba di tempat tujuan, bertanya lalu menjawab dan menanyakan hal yang sama dengan kata secukupnya dan canggung diakhir kalimatnya.
Sesampainya di pusat pertokoan, mereka masih terlihat canggung walau berjalan berdampingan. Di depan sebuah toko, Lady tertarik dengan suatu barang, dia pun meminta Yuki untuk menemani atau menunggunya di luar, dan Yuki memilih untuk menunggu sementara Lady membeli barang yang disukainya.
Ketika Lady sedang di kasir, dia melihat Yuki dikerubungi beberapa orang yang meminta tanda tangan dan fotonya. Ketika itu entah apa yang ada di pikiran Lady, yang jelas dia merasa tak yakin dengan apa yang sudah dia putuskan. Hatinya berdebat antara iya dan tidak, dan kata tidak merajai hati. Lady keluar lewat pintu samping dan terus berjalan menjauh dari Yuki yang masih dikelilingi fans.
Yuki tersadar ketika fans-fans itu akhirnya berkurang dan lalu hilang, dia merasa sudah terlalu lama Lady di dalam, maka Yuki putuskan untuk menyusulnya. Dicari-cari Lady ke seluruh pojok toko yang memang tak terlalu besar, namun Lady tak berada di mana-mana.
“maaf.. lihat cewek pake rok abu-abu gak..?” tanya Yuki pada penjaga kasir.
“oh.. dia keluar lewat pintu samping tadi..!”
Yuki terhenyak, mengernyitkan dahi dan tak habis pikir dengan yang dilakukan Lady. Namun Yuki malah terus berlari mencari Lady yang mungkin saja belum jauh pergi. Sampai matahari mulai terbenam, Yuki masih berlari di sekeliling pusat pertokoan dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari Lady di apartemennya, namun tak juga ia temukan seorang pun disana. Yuki pun mencari Lady ke pub dan orang-orang disana bilang tak ada jadwal Lady manggung. Yuki seperti orang gila mencari Lady kemana-mana dan tak dia temukan sampai putus asa.
Yuki membenamkan wajahnya ke dalam bath-tub jam 11 malam ketika dia sampai di kamar apartemen miliknya. Tak habis-habisnya dia berpikir mengenai apa yang ada dalam hati Lady, apa yang tersirat dalam kepala Lady ketika melihatnya. Yuki teringat akan kata-kata Midori, “…lebih gampang nangkep elang daripada Lady…” tapi rasa itu terlanjur menjalar, tak jauh beda pula dengan obsesi dan obsesi selalu bisa mengalahkan logika. Tapi tak dia sangkal juga bahwa inti dari hal gila ini adalah satu rasa dimana rasa itu sudah mengais-ngais logikanya dari awal, cinta.



“…dan lo kabur gitu aja, non..!!” Midori mencak-mencak pada Lady.
“…thank’s God I’d done that…!” dingin Lady menjawab.
“…but you’re gonna get bad damn impression..!!”
“…thank’s God..!!! jangan bikin ini ribet deh, syukur-syukur kalo dia punya tanggepan gitu, and it’s going to an end.. finish..!” Lady berdiri dan mengambil gitarnya, sementara Midori menyulut rokoknya, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Lady.
Kai yang sedari tadi memang sudah ada disitu bolak-balik memandangi Lady dan Midori, “kalian gak pada pulang…?”
Midori dan Lady bersamaan memandang Kai, “lo sendiri..? oh..ya, gimana setelah Ren dan Jack mutusin keluar dari band..?” kata Midori akhirnya.
Setelah main tadi, Ren dan Jack mengumumkan bahwa mereka membentuk band baru dan serius dengan band tersebut, sudah sampai tahap bikin demo. Midori, Lady dan Kai tidak pernah memaksakan kehendak, mereka pun tidak menahan Ren dan Jack untuk tetap bersama mereka. Karena kebetulan juga, kontrak mereka mau habis dan sudah ada pengganti kalau-kalau mereka tidak bisa melanjutkan lagi kontraknya.
“tentang siapa…?” tanya Kai.
“ya.. tentang elo..” jawab Midori.
“gue sih.. ngikut kalian aja, enggak nge-band juga gak apa-apa kok, kalian tahu kan gue orangnya bebas dan lepas, Ren juga ngajakin gue, tapi gue lebih milih bareng kalian aja ah, lagian kan gue diminta buat nge-DJ disini..!” ujar Kai.
Kai sedari tadi memang santai-santai saja dengan keputusan apapun, dia orangnya memang bebas dan gak mau terikat, tapi sekali dia terikat sama sesuatu (dan itupun harus atas kemauan sendiri) dia akan serius menjalaninya.
“gue balik ah..!!!” kata Lady sambil beranjak.
“sendiri..?” tanya Kai.
“iya.. sendiri aja..!” jawab Lady.
Lady segera memakai jaket hitam dan kupluknya, dia melambai pada Kai dan meleletkan lidah pada Midori, “Midori.. jangan lupa ke rumah..!”
Lady berjalan keluar melalui pintu belakang pub karena di depan pub sesak sekali orang yang mendengarkan lagu electro dari DjPai. Di depan pintu belakang, Lady menyulut rokoknya, lalu berjalan di trotoar yang lumayan sepi pada jam 11 malam seperti ini. Melewati satu lorong, seseorang memanggilnya, Lady menoleh dan Yuki ada disana. Setelah Lady terkaget dengan apa yang dilihatnya, dia tak bicara apa-apa dan langsung meneruskan berjalan, tapi Yuki menarik tangannnya.
“Lady.. bentar..! kenapa lo pergi kemarin..??” tanya Yuki.
Lady menghempaskan tangan Yuki, “..gue pergi karena ingin pergi.. sekarang juga gue ingin pergi..!” Lady berjalan kembali dan kali ini Yuki mengikuti tanpa ingin menahan-nahannya.
Yuki terus berjalan di belakang Lady, Lady berusaha untuk tak cemas mengetahui Yuki ada dibelakangnya, tapi dia kesal juga dengan kelakuan Yuki. Hampir 100 meter Lady berjalan, kesabarannya habis juga.
Lady berbalik, menatap Yuki tajam, “kenapa sih lo ngikutin gue..??!!!” Lady bicara dengan nada yang hampir keras.
“karena gue ingin ngikutin elo..!” dingin Yuki menjawab.
Lady menghela nafas panjang, dia kembali berjalan, dan bilang “terserah…”
Ternyata Yuki tak bergeming, dia terus saja mengikuti Lady, malah dia suka bertanya-tanya sesuatu yang gak penting, seperti ‘suka bangun jam berapa’, ‘frekuensi ketemu keluarga’, sampai ‘dimana ngewarnain rambut’. Dan entah kenapa, Lady malah menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya itu.
Jalanan makin sepi, masih beberapa meter lagi menuju apartemen Lady. Yuki mulai kehabisan pertanyaan dan dia hanya bersiul sepanjang jalan. Lady berbelok ke dalam pintu depan apartemen tanpa mempedulikan Yuki. Karena satpam disitu stand-by dan Yuki tahu apartemen tidak menerima tamu diatas jam 11 malam, maka Yuki berhenti disitu juga melihat punggung Lady menghilang dibalik pintu kaca apartemen.
Yuki tersenyum sendiri pada malam yang dingin, entah sudah berapa jauh dia meninggalkan mobilnya di belakang pub, ketika Yuki melihat sekitar, dia tahu tempat itu, tapi tak tahu jalan pulang ke pub. Yuki kebingungan mencari taksi yang tak kunjung muncul, dia hampir tak ingat jalan apa saja yang dia lalui tadi.



Yuki berlari kencang dari hall-park sampai ke studio musik milik band-nya. Sesampainya disana dia terengah-engah langsung duduk tak peduli dengan ketiga temannya yang sudah mulai latihan.
“Yuki.. lo kemana aja..??? udah tiga kali lo telat kayak gini..!” ujar salah seorang temannya, sang bassist, Tetsu.
“sorry.. semalem gue habis cari mobil, gak ketemu-ketemu..!” kata Yuki yang masih mencoba memperbaiki nafasnya.
Ketiga teman Yuki terbelalak matanya, “mobil lo hilang, gitu..!??” tanya sang gitaris, Ken, yang lainnya ikut memperhatikan.
“bukan gitu.. ceritanya panjang, gue sampai nyasar..! mungkin ini waktu yang tepat buat gue cerita..!”
Yuki menghela nafas panjang lalu menyuruh ketiga temannya duduk untuk mendengarkan ceritanya. Dan Yuki pun mulai bercerita tentang kecintaannya pada seorang gadis yang membuatnya tersesat dimana-mana.
“haa… lo jatuh cinta sampai kayak orang gila begitu..?!” kata Ken sambil tertawa.
Sementara itu Tetsu malah geleng-geleng kepala tanda tak setuju dengan Ken, “gue malah begitu ngerti sama Yuki, hehe.. bener juga lo, kita pasti bisa melakukan apa aja buat orang yang kita sayang…” ujarnya.
“kalau udah gini, gue selalu merasa ingin jatuh cinta..” vokalis yang tepat berada di depan Yuki akhirnya angkat bicara, Hyde.



Malam-malam berikutnya, setiap Lady pulang dari pub dan keluar lewat pintu belakang, Yuki selalu sudah berada disana. Dan walaupun tak pernah ada satu senyum tulus-pun tersungging di bibir Lady, Yuki selalu tak henti bertanya tentang kehidupan Lady dan Lady menjawabnya. Meskipun begitu, pertanyaan yang sifatnya privat tak pernah Lady jawab dan Yuki tahu itu, Yuki langsung diam kalau tak mau mata tajam Lady menusuk-nusuk dirinya. Sebenarnya Lady juga tak pernah henti mencoba membuat Yuki untuk tidak terus mengikutinya, tapi Yuki terlalu keras kepala.
Sudah 3 atau 4 hari ini malam-malam Lady selalu bersama Yuki, sebenarnya ada satu perasaan lain dalam hatinya, begitu dia bertemu Yuki sesuatu itu terasa begitu jelas dan menenangkan batinnya dan perasaan takut itu hilang sedikit demi sedikit. Namun karena terlalu pedih masa lalu yang dia bayangkan dan terlalu takut bila nanti terjadi lagi padanya, maka Lady pikir hal ini tak boleh lagi dilanjutkan.
“gue mau minta tolong sama adik lo, Midori..” kata Lady yang berada di kamar Midori yang luas.
Mata Midori terbelalak, “ade gue..?? maksud lo Oki..??!!”
Lady mengangguk, “gue udah putusin untuk mengakhiri ini secepatnya..!”
Midori berkacak pinggang dan menampakkan muka yang tak habis pikir dengan Lady, “gue pikir dengan perlakuan Yuki sama lo selama ini, lo mulai luluh sama dia..!”
Lady menghisap rokoknya dalam-dalam, “gue inginnya begitu, tapi.. kenapa harus Yuki..!!! lo tahu, setiap gue lihat dia di TV, gue selalu menyesal pernah ketemu dia dan gue selalu menyesal dengan rasa yang baru gue rasain sama dia..!”
“hanya karena status Yuki yang ‘artis’ terus lo biarin hati lo terkatung-katung gak tahu kemana.. lo gak sadar kalau dia aja gak peduli sama semua itu…”
“ini lebih ke status gue yang ancur-ancuran, yang gak tahu mau dibawa kemana.. gue udah seneng dengan kehidupan gue yang kayak ini, just like you.. dan gue gak mau berubah lagi dan akhirnya semuanya terulang…!!”
Midori menajamkan matanya, “udah gue duga, lo masih takut semuanya terulang lagi.. tapi lo gak bisa mendramatisir masalah yang harusnya lo lakukan, lo lebih milih untuk menguat-nguatkan diri, memberani-beranikan diri yang sebenarnya gak akan pernah bisa bikin hilang semua ketakutan lo, tahu gak..!” Midori berbaring di samping Lady, “mengangislah sekali-sekali…”



Hari ini Oki belum datang, terpaksa Lady masih berjalan keluar pub lewat belakang dan mungkin akan bertemu lagi dengan Yuki. Dan ternyata benar, Yuki ada disitu. Lady menatapnya sebentar kemudian geleng-geleng kepala dan berlalu di depan Yuki, namun Yuki tetap mengejarnya.
“suara lo bagus pas nyanyi tadi…!” Yuki membuka pembicaraan sambil berjalan 1 meter dibelakang Lady.
Lady tak membalas pernyataan itu.
“apa tadi judul lagunya..??” tanya Yuki.
“dahlia..” jawab Lady singkat.
Tiba-tiba Yuki tertawa kecil, Lady berhenti untuk tahu mengapa Yuki tertawa, namun Yuki malah kaget, “kenapa berhenti…??”
“kenapa lo ketawa…?!”
“oh.. gue Cuma pengen ketawa aja, soalnya selama 5 hari gue bisa tahu tentang lo, pdkt gue sukses, sekarang gue pengen lo jadi cewek gue…” wajah Yuki tampak serius ketika meminta Lady.
Lady terdiam, dia tahu kata-kata itu akan keluar dari mulut Yuki cepat atau lambat. Rencananya agak terlambat dijalankan, Yuki keburu mengucapkan kata itu.
Lady berusaha setegar mungkin menjawab ini, dengan pemikiran singkat dia bicara, “denger ya, Yukihiro.. gue gak akan pernah bisa sama lo sampai kapanpun..!”
“kenapa gak bisa…?”
“lo artis, hidup gue ancur.. dan elo bakal ikutan ancur..! gue cewek perokok, suka minum, tato gue dimana-mana.. dan gue udah gak virgin lagi.. puas..!!”
Mendengar kata terakhir Lady, Yuki tercengang, dia terdiam beberapa saat sementara Lady hampir berkaca-kaca menahan semua kepedihan ini, “jadi, karena gue artis dan lo gak virgin, itu bakal ngancurin hidup gue.. gue gak nyangka segitu pedulinya lo sama hidup gue…”
“… apa lo gak ngerti….”
“gue ngerti sekarang… lo pikir gue artis sinetron apa, gue Cuma drummer band, lihat piercing gue, gue juga sering ke bar, minum-minum, mabuk, gue ngerokok, kita anggep aja diri kita sama…!”
“lo gak akan pernah ngerti…!!! Lo harusnya udah tinggalin gue sejak lama…” Lady mulai mengeluarkan air mata lalu berlari pergi dari hadapan Yuki.



“hai Lady…” seorang lelaki dengan suara menggoda terdengar di belakang Lady.
Lady berbalik dan tersenyum padanya, “hai…” sapanya lembut pada lelaki bertubuh tinggi, agak botak dan ber-piercing dibawah bibirnya. Memakai kaos hitam ketat yang menampakkan tato besar di lengan kirinya.
“you look beautiful tonight.. honey..!” lelaki itu memperhatikan Lady yang memakai tank-top kulit hitam, celana hitam dan boot hitam. Piercing diamond di hidungnya, Lady ganti dengan piercing jamrud hitam.
“thank you..!!” balas Lady.
Mereka pun membicarakan sesuatu dan seperti sahabat lama yang baru bertemu, mereka pun mengenang masa lalu. Lalu Midori datang dan merangkul lelaki tersebut dengan tangannya yang nampak kecil.
“am I interupting..???” kata Midori, “udah gue bilang lo gak usah dateng, dasar..!! adik brengsek lo.. malah lebih nurut sama Lady daripada sama gue..!”
Mereka bertiga pun tertawa bersama, “Oki.. please bantuin gue..!” Lady merajuk.
“oke.. buat elo, apa sih yang enggak gue lakuin..!” kata Oki merayu.
Midori memukul punggung Oki, “eh.. inget istri di rumah..!”
“oke.. oke..” Oki ngalah sama Midori, kakaknya tercinta.
Di pub sedang bergema musik disco-metal dari DJ-Kai, setelah band mereka bubar, Kai mengajak Midori dan Lady mengerjakan sebuah proyek remixing berbau rock karena sebenarnya kontrak mereka baru habis beberapa hari lagi.
Lady, Oki dan Midori mulai menjalankan misinya. Midori menelfon Yuki, nomernya sudah dia miliki waktu sekali-kalinya Yuki ke apartemen Lady. Midori bertanya dimana Yuki sekarang, dan Yuki bilang dia menuju pub, Midori menyuruh Yuki untuk masuk dulu ke pub sebelum Lady pulang nantinya, dan Yuki menyetujuinya.
Sebenarnya hanya itulah tugas Midori yang awalnya tak mau dia lakukan, tapi Lady meminta Midori untuk meyakinkan Yuki benar-benar melihatnya, terpaksa Midori lakukan untuk sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian, Midori sedang merokok di depan bar, memperhatikan lantai dansa yang penuh orang termasuk Lady bersama Oki yang sedang menggoyangkan badannya bersama-sama. Midori melihat ke pintu masuk dan Yuki ada disana. Dengan segera Midori membisikkan sesuatu kepada bartender, dia bilang pada bartender itu untuk membuat Yuki duduk di tempat yang dia duduki sekarang. Lalu Midori bergegas menuju Lady dan Oki, Midori bilang, Yuki nanti duduk di tempatnya tadi. Setelah itu, Midori segera berjalan keluar pub.
Yuki menurut dipersilahkan duduk oleh bartender, dia tak tahu sama sekali apa yang akan terjadi. Yuki menikmati sekali musik yang bergema di pub ini, dia pun melirik lantai dansa sekali-sekali, dan ketika Yuki melihat lurus ke depan, dia melihat seseorang yang begitu dia kenal, menari-nari bersama seorang pria begitu dekat dan mesra. Lady memeluknya, dan pria itu sekali-sekali berbisik di teliga Lady. Mereka berdua berkeringat, panas sepertinya, namun tak lebih panas dari hati Yuki saat ini. Yuki tak ingin lagi berada di tempatnya, dia segera pergi dari tempat itu. Midori melihat Yuki pergi dan merasa begitu iba padanya.



Keesokan harinya dan hari berikutnya lagi, Lady tak menemukan lagi Yuki berjalan di belakangnya.
“it’s working.. thank’s God..!!” kata Lady tampak begitu berbahagia.
“gue kasihan sama Yuki, dia kayaknya cinta banget sama elo, dan elo malah…” ujar Midori.
“gue Cuma mau dia hilang, itu aja.. nanti juga dia cepet lupain gue..!”
Tapi ternyata yang terjadi tidak sejalan dengan apa yang direncanakan. Setiap pulang dari pub, dia merasa merindukan sesuatu, hari dimana gangguan-gangguan itu muncul setiap saat. Midori pun merasakan ada yang aneh dengan Lady yang lebih banyak diam dan bertingkah cemas seperti sedang menunggu sesuatu.
Dua hari, empat hari, lima hari terlewati, namun masih saja kecemasan itu muncul, kesepian yang tak terduga akan datang ternyata datang dan membuat sisi hati yang tegak berdiri goyah. Lady makin terus merasa resah dan gelisah, ketika dia pulang malam, dia lebih banyak berkeringat dingin dengan alasan dia takut berjalan malam hari.
Midori mulai tak tahan dengan kelakuan Lady, dia tahu ini semua tak seharusnya terjadi. Lady sebenarnya mulai merasakan getaran-getaran itu sejak dulu, tapi tak dia rasa karena ego-nya yang terlalu tinggi mengalahkan cintanya.
Midori tiba-tiba bicara ketika Lady sedang menatap keluar jendela, “keegoisan elo itu udah bikin elo lebih ancur-ancuran dan sekarang udah memutus jalan hidup elo yang sebenarnya, jalan hidup elo tuh ada di Yuki, ngerti..! sekarang gimana solusi lo.??”
Lady malah mengernyitkan dahi, kaget dengan apa yang dikatakan Midori, tapi dia pura-pura tak mengerti, “maksud lo apa..??”
“gak ada maksud.. Cuma khawatir aja sama keadaan elo yang kayak gini, baru seminggu.. gimana kalau selamanya lo gak bisa ketemu dia lagi..!” ujar Midori.
Hati Lady berdetak lebih kencang lagi mendengar Midori bicara seperti itu. Lady mengusap mukanya, dengan segera mengambil jaket lalu pergi keluar.
“mau kemana..??” tanya Midori sambil mengejar.
“pub..” jawab Lady tanpa berbalik.
Midori garuk-garuk kepala, begitu tak mengerti cinta seperti apa yang dihembuskan Lady dari hatinya. Apalagi sekarang mereka sudah tidak manggung lagi di pub itu, jadi kemana Lady sekarang..??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar