Pages

And so i play my guitar, I always play my guitar. Karamiau saigetsu wo tadoru tabiji de. Mabuta ni kanjiru yuuitsu no honoo. Natsu no nagori wo utsusu mina no ne. Hanatsu senritsu yo tooku tooku kanawanakutomo ~Loreley~

2010/04/23

[Sexy04] Green Storm

Catch me if you can…



Hari ini Midori tak tahu harus kemana lagi mencari-cari Lady. Dari siang Lady tak menjawab telfonnya, dan malam ini Lady tak berada di apartemennya. Dia sudah begitu putus asa tak menemukan Lady dimanapun.
Sementara itu, Kai sudah meminta Midori untuk membantunya remixing di pub, jadi dia harus membawa dulu stick drum ke rumahnya yang lumayan jauh dari pub. Stick drum yang selalu dipakai ada di rumah Lady, itulah yang membuatnya mencari-cari Lady. Stick yang di rumah Midori itu adalah stick kesayangannya, ada kanji Midori yang begitu kecil tersembunyi di ujung stick itu.
Akhirnya Midori telat 15 menit datang ke pub, Kai maklum itu, dia pun jadi agak cemas mendengar cerita Midori yang tak menemukan Lady dimanapun. Tapi proyek satu ini tak bisa ditunda lagi, mereka pun memutuskan untuk mencari Lady setelah kerjaan selesai.
Tiga jam berlalu, setelah itu Kai mencoba kerjaannya di atas panggung, sementara Midori disuruh untuk mendengarkannya dari sisi yang jauh dari panggung.
Midori menyimpan stick drum diatas meja bartender. Ada seseorang duduk disamping Midori, memakai kemeja putih garis-garis dan topi yang menutupi sebagian mukanya. Dia menyimpan sesuatu di sebelah stick Midori, Midori tak tahu apa yang disimpannya karena fokus dengan permainan Kai. Setelah permainan Kai selesai, Midori berbalik ke bartender.
“bagus gak si Kai..?” tanya Midori, sambil meminum cocktail-nya.
“keren banget..‼ by the way Lady mana..??”
“eh.. gue jadi inget sama dia, dia gak ada dari tadi siang, gue cemas banget sama dia.. takut kejadian apa-apa sama tuh anak..!”
Bartender itu hanya ber-ooh karena ada pemesan.
Lelaki disamping Midori, handphone-nya berdering. Lelaki itu bicara begitu keras, sampai-sampai Midori menoleh, dia melihat sebuah tato naga di punggung tangan kiri lelaki itu. Tato yang aneh, baru dia lihat kali ini, warnanya pink, tapi ketika kena cahaya warnanya jadi hijau, naganya pun begitu indah dia lihat.
“Midori, jadi cari Lady..?” Kai datang.
Belum Midori menjawab, dia merasa lelaki disebelahnya akan beranjak agak buru-buru, jadi Midori menoleh dulu, lelaki itu mengambil sesuatu dari meja bartender di sebelah stick Midori. Setelah lelaki itu pergi, Midori merasa ada yang aneh dengan kantung stick-nya, ketika dia lihat ujung stick-nya, tak ada tanda kanji sama sekali, walaupun seluruh badan stick tersebut sama dengan miliknya.
Midori refleks mengejar lelaki itu, sampai di pintu masuk pub, dia melirik kanan kiri dan menemukan lelaki itu 100 meter dari pub sedang membuka pintu mobilnya. Tanpa pikir panjang, Midori mengejar mobil itu sampai beberapa meter jauhnya, tapi tak terkejar juga sampai nafasnya tersengal-sengal.
“damn..‼‼‼” teriak Midori.
Terdengar Kai memanggil-manggil Midori, “hey.. lo kenapa..??”
“stick gue ketuker sama cowok tadi.. stick-nya sama banget sama punya gue..” ujar Midori masih ngos-ngosan.
“ya udahlah kalau emang sama..”
“bedanya itu stick pertama gue, ada kanji Midori-nya, khusus buat gue dari yang bikinnya..!” Midori mulai lemas, stick itu jarang dia pakai, sekarang malah hilang.
“oke.. kita cari lagi nanti, lo mau cari Lady kan..?” tanya Kai bermaksud menenangkan.
Midori menepuk dahinya, “ya ampun, gue lupa..”



Pukul 11 malam, Kai menekan-nekan bel apartemen Lady, namun tak ada jawaban pula. Mereka pikir Lady memang tidak berada di dalam, atau dia sudah tidur. Tapi, kemungkinan dia ada di dalam katanya kecil sekali, masalahnya, Lady sekarang lebih suka menyendiri melihat matahari terbenam. Akhirnya mereka teringat tempat itu, Midori dengan wajah yang masih ditekuk membawa Kai ke tempat dimana Lady sering menyendiri.
Sesampainya disana, mereka tak temukan Lady. Midori sudah mulai putus asa, dan Kai yang melihat itu benar-benar tak tega.
“udahlah Midori, Lady itu udah gede.. lagian, lo baru aja kehilangan sesuatu kan, kita pulang aja, dan besok pagi kita mulai lagi cari Lady.. oke..!”
Midori hanya mengangguk dan menuruti apa kata Kai, dia diantarkan pulang oleh Kai.



Pukul 8.30 Midori sudah berada di parkiran apartemen Lady. Baru saja dia mematikan mesin, dia melihat sebuah land-rover (yang sepertinya dia kenal) keluar dari parkiran. Mengingatkan dia pada Yuki dan juga Lady. Semoga saja Lady ada di apartemennya sekarang, dan tidak lagi membuat Midori cemas.
Midori mengatur nafas sebelum menekan bel apartemen Lady. Dan “thank’s God..!” tepat Lady yang membukakan pintunya, masih dengan baju tidurnya. Midori dengan cepat memeluk Lady.
“lo kemana aja.. gue udah pikir lo bunuh diri..!” kata Midori cemas.
“bunuh diri…?? Gue..?? lo ada-ada aja..!” jawab Lady dingin. Dia menarik Midori ke dalam apartemen dan membawanya duduk.
“syukur deh.. tapi lo sehat-sehat aja kan..?”
“couldn’t be better..”
Midori mengernyitkan dahi mendengar jawaban Lady, “lo udah sembuh non.. atau disembuh-sembuhin.??!”
“haha.. lo gak tahu gue lagi seneng sekarang..‼ semalem Yuki disini, dia tidur di kamar gue, dan tadi pagi gue udah ngomong semuanya sama dia, and now all things are clear and I’ll be with him…”
Midori hanya bisa melongo dengan apa yang dikatakn Lady, benar-benar tak bisa dipercaya.
“hey.. lo gak ngerti bahasa inggris..???” Lady menepuk pundak Midori.
“pantes aja semalem gue kesini sama Kai, dan berasa gak ada siapa-siapa.. nyatanya lo lagi seneng-seneng disini sama Yuki yah..‼ gak tahu hal yang buruk udah terjadi sama gue…‼”
“eh.. gue semalem Cuma tidur dan bukan ‘tidur’ sama dia. Tapi, emang semalem lo kenapa..?”
“gara-gara elo gak ada di rumah, stick kesayangan gue ilang..!” Midori kini ingat lagi akan kesedihannya semalam.
“stick lo yang itu, sorry gue gak tahu.. gimana bisa ilang..?”
“kebawa sama seseorang di pub, dia duduk di samping gue, mungkin ketuker, soalnya dia juga bawa stick yang sama..!” Midori memperlihatkan sepasang stick drum pada Lady. Memperlihatkan ujungnya yang tak ada kanjinya sama sekali, “tapi, biar bagaimana pun, gue gak bisa ngerelain stick drum itu, gue harus dapetin lagi stick itu, gimanapun caranya…‼” kata Midori berapi-api.
“iya… tapi gimana…??”



Lady ada di sebelah Midori yang sedang menyetir mobilnya sendiri sekarang. Dia begitu kasihan melihat Midori yang tampak cemas seperti kehilangan anaknya sendiri. Mereka bertujuan ke pub baru yang sudah mengontrak band mereka. Mereka hanya bertiga untuk sementara, Lady gitaris merangkap vokal, Midori tetap di drum dan Kai pada keyboard, synthetizer dan lain-lain.
Sesampainya disana, Kai sudah datang duluan. Pub itu benar-benar pub yang besar hall concert-nya, lebih besar dari pub sebelumnya dan sama dengan yang dulu, ada dua tingkat dan lebih banyak tumbuhan seperti bar atau lounge. Pub ini katanya bisa disesuaikan jenis musik yang akan diputar, memang kebanyakan masih meminta clubbing music, tapi kalaupun ada music metal tapi berbau electro mulai banyak juga yang meminta diputarkan. Maka dari itu pengurus pub ini mengontrak band mereka karena ada unsur new-electro yang kental.
“eh.. Lady udah ketemu.. lo ngilang kemana aja..??” tanya Kai.
“gue gak ngilang.. eh, gue mau cerita banyak sama lo..!” jawab Lady dan dia menarik Kai untuk menceritakan semuanya.
Sementara Midori masih gak mood untuk melakukan apa-apa, dia pergi ke arah belakang pub, dia jalan-jalan sedikit, dan dia melihat ada satu kerumunan di seberang pub. Midori tertarik untuk melihat kerumunan yang diselingi dengan jeritan-jeritan histeris seperti jeritan para fans pada idolanya. Midori mengintip dari celah kerumunan fans. Mereka ternyata sedang meminta tanda tangan dan foto seseorang, pasti seorang artis, artis itu memakai topi dan kacamata hitam, Midori sama sekali tak ingat artis ini siapa, mungkin artis drama.
Tapi, ketika beberapa orang sudah puas, dia melihat tangan artis lelaki itu yang masih membubuhkan tanda-tangannya di sebuah kertas. Disana terlihat tato naga warna pink. Midori segera ingin menemui orang itu, dia memanggil “hey..” tapi kurang keras dibanding jeritan fans yang lain. Ketika seorang fans nyosor untuk menciumi artis (yang tak dijaga bodyguard) itu, artis itu lari dan dikejar oleh seorang fans tadi, Midori pun ikut mengejarnya, artis itu jadi dikejar oleh dua orang perempuan.
Sampai seorang fans itu hilang tenaga, Midori masih saja mengejarnya. Artis itu begitu ketakutan melihat masih ada yang mengejarnya, padahal Midori bukan ingin menciumi orang itu. Mereka berlari sudah begitu jauh, tak tahu sampai mana. Jalanannya sepi, pagar pembatas setinggi lutut pun Midori jabani, dia terus mengejar sang artis tanpa lelah. Sesampainya di jalan raya lagi, artis itu cepat-cepat masuk taksi, Midori tak kebagian taksi, dia kehilangan jejak.
Midori terduduk di pinggir trotoar, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Kemudian mobil Midori berhenti di pinggir jalan, Kai yang mengendarai dan disana juga ada Lady. Mereka melihat Midori yang sudah tampak seperti pengemis yang kecapekan.
“Midori.. lo kenapa..? ngejar siapa..??” tanya Lady cemas.
Midori geleng-geleng kepala, “bawa gue dulu.. entar gue cerita..!”
Lady dan Kai memapah Midori sampai ke dalam mobil. Midori langsung menyambar air putih dalam botol di mobil, sementara Kai menyalakan mesin mobil dan akan segera pergi menuju apartemen Lady.
“hah.. orang itu artis guys.. dan pastinya terkenal.. tapi gue gak kenal..! mungkin band baru yang terkenal sebentar..!” kata Midori kesal.
“yang bawa stick lo itu..?? lo tadi ketemu sama dia..??” tanya Kai.
“iya.. dia lagi dikerubungin fans gitu, fans itu ngejerit-jeritin namanya sih, tapi gue gak denger..!”
“mungkin gak dia drummer..!” ujar Lady.
Kai dan Midori refleks menoleh pada Lady, “lo ini, mentang-mentang habis jadian sama drummer, keingetannya drummer aja terus..‼” canda Kai, sampai lengannya ditonjok Lady.
“eh.. tapi bener juga tuh, kita cari aja drummer band terkenal yang ciri-cirinya kayak dia..!” seru Midori.
“emang lo tahu ciri-cirinya dia..??” tanya Kai.
“gue sih tahu rambutnya, bentuk badannya dan tato naga di tangan kanannya, yang gue gak tahu tuh mukanya, dia selalu pakai kacamata hitam gede dan pake topi..!” jawab Midori.
“oke.. kita cari aja tuh drummer..!”



Midori, Lady dan Kai membawa banyak CD konser di tangannya. Konser berbagai band yang terkenal dan yang kurang terkenal, dari band lama sampai band baru. Mereka menonton konser itu di apartemen Lady.
“kita mau nonton yang mana dulu..?” tanya Lady.
“yang ini aja.. covernya bukan gambar personilnya..!” jawab Midori, mengambil sebuah CD konser ber-cover bintang-bintang dari salah satu band baru.
“oke.. ternyata kita tuh katro soal band-band dalem negeri sendiri yah..!” ujar Lady sambil memutar CD itu di DVD player-nya.
Mereka pun menonton dengan seksama, khususnya memperhatikan drummer dari band tersebut. Tapi drummer disitu, agak gemuk dan rambutnya gondrong. Yang dicari Midori jelas-lah bukan itu. Mereka berhenti menonton konser itu.
Midori, Kai dan Lady memilih-milih lagi CD mana yang akan ditonton, karena memang kebanyakan cover CD itu tidak bergambarkan personil dari band itu sendiri.
Kai menemukan CD band Ciel, yang covernya adalah kepala dari para personilnya, “Lady.. lo beli juga CD-nya Ciel..?”
“iya sih.. tapi gak usah dilihat deh, udah gak mungkin ada disitu, kita lihat dulu yang lainnya..!” jawab Lady.
“he-eh bener.. gak mungkin dia drummer-nya Ciel kan..!”
Akhirnya, sudah berpuluh-puluh konser yang mereka tonton, tak ada satupun yang mengenai sasaran, walaupun Midori sudah meneliti begitu cermat seluruh badan drummer-drummer itu, tetap saja tak ada yang sama dengan ciri-ciri orang yang Midori cari.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 petang, bel apartemen Lady berbunyi, Kai yang tertidur dari dua jam yang lalu sampai terbangun dibuatnya. Lady membuka pintu apartemennya dan Yuki ada disana.
“hai..” sapa Yuki. Dia mengernyitkan dahi mendengar suara musik yang begitu keras dari dalam apartemen Lady.
Lady melirik ke dalam, “emh.. ada Midori sama Kai, masuk..!” Lady menarik tangan Yuki untuk mengajaknya masuk ke dalam.
Yuki langsung diajak Lady untuk duduk bersama dengan Midori yang tampak bosan dan merokok di kursi dan Kai yang ternyata masih melanjutkan tidurnya di sofa. Yuki melihat banyak CD berserakan dimana-mana dan sebuah konser sedang ditonton.
“buat apaan nih..?” tanya Yuki.
“Midori lagi cari seseorang, tapi gak ketemu. Eh.. mungkin lo bisa bantu..! Midori…” Lady menatap Midori.
Midori kurang mengerti dengan Lady karena pikirannya yang hanya penuh dengan stick drum, tapi dia teringat ketika menatap Yuki, dia segera beranjak, “eh.. bener juga, Yuki, lo punya temen drummer, rambutnya lurus sebahu, badannya tinggi banget, dia suka pake kemeja, dan kalo gue gak salah dia punya janggut..!” Midori bertanya dan berapi-api mengharap Yuki tahu orang itu.
Yuki mencoba mengingat-ingat orang yang punya ciri-ciri seperti itu, tapi dia malah teringat gitaris band-nya sendiru, “lo bilang drummer..?” Midori mengangguk hebat, “kayaknya enggak ada deh..!”
Midori tertunduk, “damned..‼‼” katanya sambil memukul meja sampai Kai sekarang benar-benar terbangun.
“sorry.. setahu gue gak ada drummer yang ciri-cirinya kayak gitu..!” ujar Yuki kaget sambil agak merasa bersalah.
“bukan drummer kali…!” seru Kai tiba-tiba tak disangka, karena dia baru saja bangun tidur.
“maksud lo… kalo dia bukan drummer, buat apa dia bawa-bawa stick drum kemana-mana dan dia bawa stick gue non..‼ dia bawa stick gue..‼” Midori sudah kehilangan akal sekarang, dia tak tahu harus berbuat apa lagi. Satu-satunya hadiah dari kakak kesayangannya yang sudah meninggal, sekarang hilang entah kemana.
Setelah Kai mencuci mukanya, dia menawarkan diri untuk mengantar Midori pulang. Dia bilang Midori harus tidur dan minum sesuatu untuk menenangkan pikirannya, Midori pikir, dia kan bisa tidur di apartemen Lady. Tapi Kai terus memainkan matanya, Midori mengerti dan mereka pun akhirnya pergi.
“lo bener gak pernah lihat drummer kayak gitu..!” tanya Lady pada Yuki setelah mengantar Midori dan Kai.
Yuki geleng-geleng kepala, “lagian.. kebanyakan badan drummer-drummer kita gak setinggi itu..!”
Lady pun membereskan CD yang masih berserakan, Yuki membantunya, ketika itu dia melihat CD konsernya sendiri terlihat masih di segel dan tak dibuka sama sekali.
“CD ini gak dilihat..?” Yuki mengangkat CD itu.
Lady melihatnya dan tersenyum, tahu Yuki hanya bercanda, “gak mungkin ada disitu kali..” kata Lady, setelah semua CD beres, dia duduk di samping Yuki, “drummer-nya kan punya gue..!”
Yuki tak tersenyum, hanya bisa menatapi wanita cantik dan sempurna baginya di depannya ini, dan bilang am I ever dream that I will be had by this most perfect woman. Yuki tak tahan lagi untuk tak menyentuhnya dan memeluknya penuh di tubuhnya mungkin dengan itu dia bisa sadar bahwa ini adalah kenyataan.
Diam-diam, Yuki langsung menyambar bibir Lady dan disambut kekagetan Lady, tapi diterimanya juga ciuman itu. Lama bibir mereka bersentuhan tangan mereka mulai masuk ke leher pasangan masing-masing.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar