Pages

And so i play my guitar, I always play my guitar. Karamiau saigetsu wo tadoru tabiji de. Mabuta ni kanjiru yuuitsu no honoo. Natsu no nagori wo utsusu mina no ne. Hanatsu senritsu yo tooku tooku kanawanakutomo ~Loreley~

2010/04/23

[Sexy02] Lady In Blue_2

Tidak pernah terpikirkan, segala rencana yang dia buat sendiri membuatnya menjadi menyedihkan. Setiap menit Lady berkata bahwa ini akan segera berlalu namun menit berikutnya hilang sudah semua yang diharapkannya.
Sunset itu menjadi saksi kesedihan yang dia rasakan, kesedihan bertubi-tubi karena disertai dengan perasaan bersalah karena telah menolak cinta yang begitu tulus yang bisa membuatnya hidup kembali. Namun, untuk bertemu pun Lady sama sekali belum siap, belum siap menerima kenyataan kalau hal ini adalah salahnya dan seluruh orang akan menyalahkannya atas keadaan yang ada.
Jam menunjukkan pukul 7 malam tepat, daerah itu sudah mulai gelap dan lampu jalan sudah mulai dinyalakan, puntung rokok pun sudah terhitung 5 ada dibawah kaki Lady. Lady mulai meninggalkan tempat tersebut untuk menemui Midori di pub dahulu.
Disana Lady sudah ditunggu oleh Midori dan Kai, mereka membooking satu ruangan private. Padahal mereka hanya akan membicarakan personil.
“gue putusin mulai sekarang kita cari personil baru..!” Midori memimpin ‘rapat’.
“cowok lagi..??” tanya Kai.
“terserah..! kenapa tanya gitu..??”
“karena gue punya feeling yang gak jelas..”
“maksud lo..??”
“mungkin aja sekarang orangnya gak jelas cewek atau cowok..”
Mereka berdua tertawa tapi tidak dengan Lady, dia hanya tersenyum simpul di sudut sofa. Midori yang melihat itu ikut juga tersenyum dan geleng-geleng kepala, selanjutnya bicara lagi pada Kai tentang pub baru yang akan mereka jadikan tempat manggung setelah dapat personil baru tentunya. Sementara ini, Kai masih jadi DJ dadakan di pub lama dan Midori rajin datang ke pub karena katanya masih kangen sama bartender disana, dan Lady, Lady menjadikan pub itu sebuah kenangan yang tak pantas untuk dikenang lagi, karena disanalah awal dari damned plan-nya.
Setelah Midori bilang ‘pertemuan’ hari ini selesai, Lady langsung minta pamit dengan alasan ngantuk. Midori pun tak banyak bicara dan membiarkan Lady pergi. Sebenarnya Midori mau bicara sesuatu pada Kai.
“emangnya kenapa sama Lady..??” tanya Kai sambil menyulut rokoknya.
“lo ini kayak yang gak tahu aja.. dia lagi menyesal, soalnya dia baru sadar kalau yang dia lakuin tuh salah..!” Midori geleng-geleng kepala sambil senyum.
Kai tertawa kecil, “kesalahan seperti ini belum sempurna kalau dijadikan salah, soalnya belum jelas.. penyesalan dia tuh bukan penyesalan sesungguhnya, itu mah Cuma kangen aja, ntar juga kalau ketemu belum tentu cowok itu bisa gampang dapetin Lady lagi...!” ujar Kai.
Midori menunjuk Kai, “lo bener juga tuh..!”
Tiba-tiba handphone Midori berbunyi dan disana tertera nama ‘Yuki’. Midori benar-benar kaget, tapi dia angkat juga.
“halo…. Gue, di pub… enggak, dia baru aja pulang…. Waah, beneran?‼… mmm lo dateng aja ke pub, nanti gue jelasin sesuatu sama lo..‼” Midori pun menutup telfonnya.
“siapa..?” tanya Kai.
“Yuki. Mungkin ini saatnya gue kasih tahu sama dia tentang semua itu..!” Midori menerawang. Kai hanya mengangguk dan tiduran di sofa.
Setengah jam kemudian, Yuki datang. Midori merasa rindu sekali sama Yuki, secara dia jarang sekali menonton televisi. Midori memperkenalkan Kai pada Yuki, dan mereka cepat akrab. Midori menyuruh Yuki duduk dan bersiap untuk menceritakan sesuatu pada Yuki. Kai tidak disuruhnya keluar, karena Midori tahu tak ada satupun rahasia yang tidak diketahui Kai.
“so.. lo kemana aja..?” tanya Midori.
Yuki tersenyum, “semenjak hari itu, gue memang sakit hati banget, sampe mutusin buat gak kemari lagi, tapi tetap gue gak bisa gitu aja jauh dari Lady, kebetulan gue ada tur beberapa hari ini dan di luar kota, emangnya lo gak lihat di tv gitu..?!”
“ooh.. jadi lo bukannya patah hati karena terang-terangan ditolak Lady, tapi karena emang ada tur..?‼” kata-kata Midori mengambang. Yuki hanya mengangguk.
“emangnya kenapa..? lo kok beda..?”
“semenjak lo gak ada, Lady itu terkatung-katung kayak ditinggal mati tahu gak.. dia itu kayak gak punya lagi kehidupan ditambah lagi kita lagi gak ada manggung..!” ujar Midori.
“maksud lo..?”
“Lady tuh kehilangan lo lagi..!”
Yuki kaget sekaligus begitu bahagia mendengar kata-kata Midori, “yang bener..??” Midori mengangguk. Yuki tersenyum sendiri, tapi setelah itu dia terdiam lagi karna masih ada satu pertanyaan yang masih membuatnya penasaran.
“emangnya apa yang bikin Lady begitu gak suka sama gue, kayaknya dia benci banget sama gue, yang gue tahu waktu itu..” tanya Yuki, pertanyaan yang ingin dia tanyakan sejak dulu.
“itu yang mau gue kasih tahu sama lo, sebenernya Lady udah wanti-wanti gue buat gak cerita ini sama siapapun selain sama Kai..!”
Yuki menatap Kai yang terpejam matanya. Bertanya-tanya, sedekat itukah hubungan persahabatan mereka bertiga..??
Midori menatap Yuki, “pokoknya, setelah Lady ditinggal ibunya, dia jadi harus tergantung sama kakak pertamanya, dan disana dia dilecehkan oleh kakak iparnya karena Lady saat itu adalah anak cewek yang masih dibilang polos, setelah itu dia pengen jadi kayak gue yang hidupnya bebas…” penjelasan Midori masih panjang, walaupun begitu, semuanya tertangkap oleh Yuki.
“pantes aja, malem sebelumnya dia bilang ke gue kalo dia tuh udah gak virgin lagi… ternyata bener..!”
“hah..?? Lady bilang gitu..!! bohong kali, walaupun Lady jadi selingkuhan kakak iparnya sendiri, dia sumpah-sumpahan belum pernah diambil keperawanannya..!”
“oh, gitu…”
“sebenernya ada satu lagi, Lady bilang ke-‘artis’-an lo bikin dia gak nyaman.. karena hidupnya yang menurut dia ‘hancur’ dan bisa bikin elo hancur juga, but, itu juga gak usah dipeduliin deh.. yang sesungguhnya itu, Lady gak bisa hidup tanpa elo.. elo pantes banggain diri soalnya elo yang bisa meruntuhkan ketakutan Lady, rata dengan tanah sekarang..” tambah Midori.



Malam berikutnya Lady terbaring menatapi langit-langit kamar. Sudah berjam-jam dia disana, tak ada seorangpun yang bicara padanya, dan tak ada seorangpun yang melihat air matanya mengalir.
Handphone-nya berdering, baru berdering sejak jam 2 siang tadi sampai sekarang sudah jam 8 malam. Lady tak hiraukan, tapi handphone itu tak henti berdering. Keheningan yang tadi Lady harapkan terus-menerus, ternyata hilang. Lady beranjak, agak sedikit pusing kepalanya. Dia mengambil handphonenya dan ada email yang masuk.

Aku tunggu kamu di bar RjV Hotel, malam ini jam 8.30. Aku butuh kamu.. untuk terakhir kalinya‼
~Yuki~
Bergetar tangan Lady, air matanya menetes. Lady melihat jam dan disana menunjukkan pukul 8.00 malam, Lady segera bergegas ke kamar mandi, mencuci mukanya yang gak karuan dan matanya yang sembap. Lady berusaha menutupi mata sembabnya dengan berbagai macam cara agar tak terlihat bersedih di depan Yuki.
Lady membuka closet-nya dan langsung mengambil sebuah tank-top kupu-kupu warna cream dengan kupu-kupunya warna glitter hijau dan beberapa warna kamuflase. Rambut ikal birunya, Lady gerai dan membuat sedikit highlight hitam di ujungnya.
Jam 9 tepat, Lady sudah selesai dan taksi sudah menunggu di bawah apartemennya. Lady begitu tak sabar ingin bertemu dengan Yuki, dia telat sekarang, apakah Yuki masih ada disana? Inikah yang dinamakan cinta ? begitu tak karuan dan tak peduli dengan waktu, begitu benci pada waktu, mengapa harus ada waktu yang memisahkan dan membuat jarak..
RjV hotel, sebuah hotel yang tak jauh dari apartemen Lady dan berada di tengah kota. Lady segera mencari bar yang dimaksud, dan bar itu ada di pojok kanan hotel, resepsionis yang menunjukkan. Ketika Lady masuk ke bar itu, bar-nya sepi. Bar itu semua perabotannya elegan dengan warna hitam dan merah marun, tenang dengan alunan musik ballad dan lampu yang remang-remang. Disana hanya ada satu bartender yang sedang juggling tanpa disaksikan siapapun, bar yang aneh, tak ada satupun pengunjung disana.
Ketika Lady melewati bartender itu, dia bicara, “nona Lady, anda sudah ditunggu di lounge nomor 11..!”
Lady mengernyitkan dahinya, namun segera pergi setelah mengucapkan terima kasih, mencari lounge nomor 11. Akhirnya dia temukan juga, dan disana sudah ada Yuki. Masih dengan rambut pirang panjangnya meminum segelas minuman keras dan dua botol lagi ada disampingnya, hampir saja tak terlihat karena seluruh pakaiannya hitam.
Dengan perasaan begitu berdebar, Lady berjalan lurus kehadapan Yuki. Setelah begitu dekat Lady berdiri terpaku. Yuki menengadah lalu tersenyum pada Lady. Tapi Lady masih menancapkan mata tajamnya. Sepeti biasa, Yuki tak mempedulikannya.
“kenapa lo mau ketemu gue..?” tanya Lady tajam.
Yuki masih tersenyum tulus menatap Lady, matanya sudah tampak merah terlihat sekali kalau dia mabuk. Yuki menarik Lady agar duduk disampingnya dengan sedikit kasar. Yuki bicara tepat di depan muka Lady, “lo bilang lo cinta sama gue..!” kata Yuki. Nafasnya berbau minuman yang begitu menyengat.
Lady memalingkan mukanya, dia tak tahan melihat wajah Yuki yang begitu terobsesi hanya untuk mendengar kata cinta dari mulut Lady. Ternyata walaupun Lady sudah bertemu Yuki sekarang, entah kenapa masih juga perlu banyak waktu untuk mengucapkannya.
Yuki meremas lengan Lady namun dengan seketika melepasnya, dia mengambil sebotol minuman dan meminumnya dengan kasar sampai tumpah ke seluruh kaosnya. Lady menatap Yuki dengan ngeri, tak menyangka seorang Yuki akan berbuat seperti ini. Lady mengambil botol itu dan menyimpannya.
“jangan minum lagi…‼!” seru Lady.
Yuki menatap Lady dalam-dalam, “sejak kapan lo peduliin gue..?” tanya Yuki dengan nada gamang, cegukan dan terbata-bata sambil menunjuk-nunjuk Lady.
Lady mulai berkaca-kaca, “lo gak tahu, gue kesiksa kalau lo jadi kayak gini, gue bakal ngerasa bersalah seumur hidup..!”
Yuki tertawa kecil, membuat Lady makin bersedih. Namun tiba-tiba wajah Yuki mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Lady. Bibir kecil itu Lady rasakan bergerak lembut, tangan Yuki mulai melingkar di pinggangnya dan lidahnya mulai membasahi mulut Lady, rasanya panas, minuman yang diminum Yuki belum pernah diminumnya, mungkin ini minuman terlezat yang pernah dia rasakan.
“gue minta maaf sama lo, gue sayang sama lo…”
Yuki begitu menangkap kata-kata Lady itu dan tersenyum penuh arti, dia kembali mencium bibir Lady lagi. Beberapa detik kemudian gerakan Yuki terhenti, kepalanya langsung lunglai di bahu Lady. Lady menepuk-nepuk pipi Yuki, namun dia hanya menggumam sambil mata sipitnya terbuka sedikit-sedikit namun tertutup lagi. Lady mengangkat Yuki dan ternyata dia masih bisa bergerak untuk diajak jalan sedikit-sedikit, mungkin dia terlalu pusing untuk membuka mata.
Lady meminta bantuan bartender tadi untuk membopong Yuki juga. Lady bertanya pada bartender, kalau-kalau Yuki membawa mobil, dan ternyata bartender itu tahu kalau Yuki membawa mobil. Lady mencari-cari kunci mobil di saku Yuki dan akhirnya ketemu. Bartender itu membawakan Yuki ke mobil dan mendudukkannya di kursi depan. Lady duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobilnya.Lady tak tahu lagi harus bawa Yuki kemana. Akhirnya dia putuskan untuk pergi ke apartemennya. Yuki tampak sudah tak sadarkan diri lagi.
Sesampainya di apartemen, Lady meminta bantuan satpam untuk membawa Yuki menuju kamarnya. Disana Yuki dibaringkan di tempat tidur Lady yang berukuran big size, satu-satunya di apartemen ini. Lady merasa capek, entah mengapa dia merasa capek, berkeringat dan gerah. Dia melihat Yuki langsung tertidur di kasur, tampak nyenyak dan tak peduli lagi dengan dunia nyata. Lady segera mengganti bajunya yang tampak tak nyaman dengan kaos yang super besar di tubuhnya.
Lady duduk diatas kasur disamping Yuki yang terbaring, dia pegang baju Yuki yang ternyata masih basah. Pelan-pelan Lady membuka jas hitam Yuki juga kaos hitam panjangnya hingga Yuki hanya bertelanjang dada saja. Lady mengambil lap dan membasahinya dengan air hangat lalu mengelap badan Yuki dan memakaikan sebuah kemeja putih padanya dengan hati-hati. Lady memasukkan baju Yuki ke mesin cuci, mengeringkannya lalu menyetrikanya sampai harum dan menyimpannya di kursi sebelah kasur Lady.
Setelah itu Lady terdiam di atas kasur, sesekali membetulkan selimut yang dipakai Yuki, Lady senyum-senyum sendiri, sesuatu yang baru saja dia lakukan lagi setelah beberapa hari ini pegal melipat terus mukanya. Hari ini betul-betul sebuah paradoks sudah hinggapi hidupnya. Pertama kalinya air mata itu muncul lagi setelah bertahun-tahun tak ada, tapi segera terobati dengan senyuman yang tak terduga akan dia dapati lagi.
Begitu kesal Lady pada lelaki yang terbaring dihadapannya ini, membuat hidup baru untuknya dan dengan seketika menghancurkannya lalu memperbaikinya lagi, dengan begitu kontras. Lady mengelus rambut Yuki yang entah kenapa tampak berkilau dimatanya. Tak beberapa lama, mata Lady sudah tak bisa ditawar-tawar lagi untuk tak terpejam. Lady tak ada pilihan lain lagi selain tidur disamping Yuki.



Paginya, Yuki sulit untuk membuka mata, kepalanya terasa begitu pusing dan berputar-putar. Yuki merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak disampingnya. Dan ketika dia menoleh dia kaget mendapati Lady disana, begitupun Lady yang baru saja membuka matanya. Dia beranjak dari tidurnya dan mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. Sementara Yuki masih terlalu pusing untuk beranjak.
Lady menatap Yuki yang tampak tak berdaya memegangi dahinya, dia pergi ke dapur untuk membuat teh manis panas. Sementara Yuki mencoba untuk duduk tegak diatas kasur, Yuki melihat sekeliling dan di beberapa sudut tembok ada foto Lady, Yuki makin memastikan kalau ini kamar Lady. Tak lama Lady datang membawa secangkir teh lalu mempersilahkan Yuki meminumnya.
“sorry.. gue gak tahu musti bawa lo kemana, jadi gue bawa lo kesini..” kata Lady ketika Yuki meminum tehnya.
Yuki hanya mengangguk dan tersenyum, “mm.. gak apa-apa, itu jauh lebih baik daripada lo kabur ninggalin gue sendirian dalam keadaan mabuk…” balas Yuki datar dengan nada bercanda.
Wajah putih Lady begitu merah sekarang, mengingat dia pernah beberapa kali kabur dari Yuki. Yuki melihat jam dinding Lady, dan disana menunjukkan angka 8.
“kamar mandinya dimana..?” tanya Yuki.
“disana..” Lady menunjukkan pintu disamping closetnya, dan Yuki berjalan kesana, “eh.. Yuki, baju lo di kursi, bisa lo pake nanti..” kata Lady sambil berjalan keluar kamar.
Yuki memandangi Lady yang tersenyum, baru kali ini Lady tersenyum tulus seperti itu baginya, salah satu obsesinya terpenuhi, melihat senyuman itu, teruntuk dirinya. Yuki mengambil baju yang dipakainya semalam dan dia kaget karena baju itu begitu rapi dan wangi. Yuki hampir saja terhanyut dalam euphoria hatinya sampai dia ingat bahwa dia ada janji jam 9 ini.
Sementara itu Lady juga tak bisa menahan kegembiraannya, dia masih senyum-senyum sendiri di dapur sambil meminum jus pagi kesukaannya. Walaupun dia masih canggung di depan Yuki karena dia belum tahu pasti apakah Yuki semalam benar-benar mendengar Lady bicara sayang padanya.
Terdengar sura pintu dibuka dan Yuki keluar dari kamar sudah memakai bajunya lengkap.
“Lady.. lo lihat kunci mobil gue..?” tanya Yuki.
“oh.. gue yang bawa..” Lady mengambil kunci dari meja dan memberikannya pada Yuki.
Ketika itu mereka begitu dekat, mereka tak tahu harus bicara apa, padahal banyak sekali yang ingin mereka bicarakan satu sama lain.
“semalem…” akhirnya mereka mengeluarkan kata yang sama bersamaan. Lalu mereka tertawa.
“semalem, kalo gue gak salah denger, lo bilang… bilang sayang sama gue..” kata Yuki akhirnya dengan terbata.
Lady menatap Yuki tajam membuat Yuki mulai lagi merasa takut dengan wanita di depannya, Lady sebenarnya hanya malu sekarang, Yuki masih seperti yang dulu, masih suka ngomong to the point dan apa adanya.
Namun tak lama kemudian Lady tertawa dan mengangguk, “lo gak salah denger kok..”
Yuki tersenyum lebar dan merasa lega dengan semua yang dia dengar, tanpa kata-kata lagi Yuki memeluk Lady begitu erat dan tak ingin lagi ada kejadian Lady lepas dari hidupnya, perjuangan yang lama dia lakukan, hujaman demi hujaman Lady yang dia dapatkan begitu sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Bagi Yuki Lady adalah berlian yang jatuh dari langit atau bayangan yang akhirnya dapat dia peluk. Keajaiban yang tak pernah berakhir.
Tak lama kemudian, Yuki melepaskan pelukannya dan mencium bibir Lady sebentar. “gue pergi dulu.. gue telfon lo lagi nanti..”
Lalu Yuki keluar diantar oleh Lady, perasaan mereka sama sekarang, sama selamanya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar